Setiap tahun, jutaan keluarga India mengajukan klaim kematian. Dalam datasets ini sebagian besar laporan industri menyoroti Claim Settlement Ratio berdasarkan jumlah klaim (count ratio) sebagai indikator utama kinerja pembayaran klaim. Namun metrik ini hanya menggambarkan ,berapa banyak klaim yang dibayar, bukan besar nilai klaim yang benar-benar dibayarkan.
Untuk memahami konsistensi pembayaran klaim secara lebih menyeluruh, diperlukan metrik kedua: Settlement Ratio berdasarkan nilai klaim (amount ratio). Perbandingan antara kedua metrik tersebut membuka perspektif berbeda mengenai perilaku pembayaran klaim di industri.
Pada periode FY 2017–18 hingga FY 2019–20, volume klaim asuransi jiwa di India menunjukkan pola pertumbuhan yang moderat dan relatif stabil. Klaim individual meningkat dari 843 ribu menjadi 874 ribu, setara dengan pertumbuhan sekitar 1–2% per tahun.
Klaim pada segmen group insurance menunjukkan pola yang serupa, dengan volume sekitar 1 juta klaim per tahun. Kedua segmen berkembang secara paralel dan menunjukkan dinamika industri yang relatif dapat diprediksi.
Volume klaim meningkat sekitar 151% dalam satu tahun.
Pada FY 2020–21, jumlah klaim individual melonjak menjadi 2.19 juta dari sekitar 873 ribu pada tahun sebelumnya. Klaim group juga meningkat tajam menjadi 2.16 juta. Lonjakan ini berkorelasi dengan dampak pandemi COVID-19 yang mulai meluas di India sejak April 2020 dan mencapai puncaknya selama gelombang Delta pada 2021.
Secara agregat, total klaim industri (individual dan group) mencapai sekitar 4.35 juta klaim pada FY 2020–21 — level tertinggi dalam periode observasi.
Pada FY 2021–22, jumlah klaim individual turun menjadi sekitar 1.6 juta. Penurunan ini menunjukkan meredanya dampak pandemi, namun volumenya masih sekitar 84% lebih tinggi dibanding periode sebelum COVID-19.
Salah satu dinamika menarik muncul pada rasio penyelesaian klaim. Secara historis, group policies memiliki settlement ratio sekitar 1.5–1.7 poin persentase lebih tinggi dibanding polis individual.
Pada FY 2021–22, perbedaan tersebut hampir menghilang. Gap antara keduanya menyempit menjadi sekitar 0.13 poin persentase, menunjukkan konvergensi performa pembayaran klaim antara kedua segmen.
Claims Settlement Ratio menunjukkan persentase klaim yang disetujui dibandingkan total klaim yang diajukan. Regulator India, IRDAI, mewajibkan setiap perusahaan asuransi jiwa mempublikasikan metrik ini secara tahunan. Karena sifatnya yang mudah dipahami, indikator ini sering digunakan oleh konsumen, broker, dan media sebagai ukuran utama reliabilitas pembayaran klaim.
98.98% Max Life — rata-rata settlement ratio selama 5 tahunBerdasarkan rata-rata lima tahun, Max Life, Tata AIA, dan HDFC Life berada di posisi teratas dalam industri. LIC — perusahaan asuransi jiwa terbesar di India berdasarkan volume polis — berada di sekitar posisi kelima dengan settlement ratio sekitar 97.98%, meskipun memproses jumlah klaim terbesar di industri.
Kinerja settlement ratio dalam satu tahun dapat dipengaruhi oleh variasi portofolio klaim atau peristiwa eksternal. Oleh karena itu, analisis multi-tahun lebih mencerminkan karakter operasional perusahaan.
Bajaj Allianz menunjukkan peningkatan signifikan selama periode observasi: dari sekitar 92% pada FY 2017-18 menjadi mendekati 99% pada FY 2021-22. Perubahan ini mencerminkan peningkatan konsistensi dalam proses adjudication klaim.
SBI Life mengalami pola berbeda. Settlement ratio mereka menurun dari sekitar 96.7% sebelum pandemi menjadi 93.1% selama puncak COVID-19, sebelum kembali meningkat ke sekitar 97% pada periode pemulihan.
Dataset IRDAI memuat dua indikator settlement ratio: satu berbasis jumlah klaim (count) dan satu lagi berbasis nilai klaim (amount). Secara matematis kedua rasio terlihat serupa, tetapi secara statistik keduanya menangkap dinamika yang berbeda.
Hal ini terjadi karena distribusi nilai klaim dalam asuransi jiwa tidak merata. Sebagian besar klaim bernilai relatif kecil, sementara sebagian kecil klaim memiliki nilai pertanggungan yang sangat besar. Dalam literatur aktuaria, pola ini dikenal sebagai heavy-tailed claim distribution.
Konsekuensinya, dua rasio settlement ini secara efektif mengukur dua populasi klaim yang berbeda:
Dalam praktik aktuaria, klaim dengan nilai pertanggungan besar biasanya menjalani proses verifikasi yang lebih ketat — sering disebut higher scrutiny for high-severity claims. Proses investigasi tambahan tersebut dapat memengaruhi perbedaan antara settlement ratio berbasis jumlah dan berbasis nilai.
Perbandingan kedua metrik ini memberikan perspektif yang lebih lengkap mengenai konsistensi pembayaran klaim pada berbagai ukuran pertanggungan.
Pada bagian berikutnya, kita melihat bagaimana perbedaan ini muncul secara konsisten di seluruh perusahaan asuransi dalam dataset.
Jika selisih antara count ratio dan amount ratio hanya disebabkan oleh variasi statistik acak, maka secara teoritis sebagian perusahaan akan menunjukkan gap positif (amount ratio lebih tinggi dari count ratio) dan sebagian negatif. Namun hasil data menunjukkan pola yang berbeda: 0 dari 24 insurer memiliki gap positif. Seluruhnya menunjukkan amount ratio yang lebih rendah dibanding count ratio, dengan besar selisih yang sangat bervariasi. Pola arah yang seragam ini mengindikasikan fenomena sistemik pada level industri.
Perbedaan antara kedua metrik ini dapat berasal dari beberapa mekanisme yang berbeda: proses investigasi yang lebih ketat untuk klaim bernilai besar, komposisi portofolio dengan sum assured tinggi, atau variasi dalam proses adjudication antar perusahaan. Data pada analisis ini dapat mengidentifikasi pola statistik, tetapi tidak cukup untuk menentukan penyebab operasional secara pasti. Oleh karena itu penting untuk membedakan antara pattern yang terlihat pada data dan intent yang berada di balik proses keputusan klaim.
HDFC Life menunjukkan gap sekitar −10%, sementara Aviva sekitar −1.3%. Keduanya merupakan perusahaan besar di industri. Perbedaan hampir sepuluh kali lipat ini menunjukkan bahwa tingkat konsistensi antara pembayaran klaim kecil dan besar dapat berbeda secara signifikan antar perusahaan.
Tidak ada perusahaan dalam dataset yang memiliki amount ratio lebih tinggi dibanding count ratio. Konsistensi arah ini mengindikasikan bahwa fenomena tersebut bukan sekadar variasi acak, melainkan pola yang muncul secara sistematis dalam data industri.
Rata-rata gap industri turun dari sekitar 5.9% pada puncak pandemi menjadi 3.8% pada FY 2021–22. Penurunan ini bertepatan dengan periode penyesuaian regulasi dan normalisasi volume klaim pasca-COVID. Meskipun demikian, perbedaan antara kedua metrik tetap muncul di seluruh perusahaan dalam dataset.
Salah satu implikasi paling menarik dari analisis ini muncul ketika metrik evaluasi diubah. Ranking perusahaan asuransi yang terlihat kuat berdasarkan count ratio dapat berubah signifikan ketika kinerja diukur menggunakan amount ratio.
Visualisasi di bawah menghubungkan posisi perusahaan berdasarkan jumlah klaim yang disetujui (kiri) dengan posisi berdasarkan nilai klaim yang dibayarkan (kanan). Garis yang bergerak ke atas menunjukkan perusahaan yang relatif lebih konsisten dalam membayar klaim bernilai besar, sementara garis yang turun menunjukkan penurunan posisi ketika ukuran klaim diperhitungkan.
Penurunan 17 peringkat yang dialami oleh HDFC Life (dari posisi 3 ke 20) menggarisbawahi bahwa evaluasi kinerja asuransi tidak cukup jika kita hanya menaruh fokus pada satu sisi.
Count ratio lebih mewakili rekam jejak penyelesaian polis-polis umum dengan nilai tanggungan rata-rata. Metrik ini mudah terlihat tinggi karena volume polis kecil mendominasi secara jumlah dalam industri.
Sementara itu, amount ratio bertindak sebagai detektor bagi konsistensi evaluasi saat perusahaan tersebut menghadapi polis bernilai jumbo (high-severity).
Oleh karena itu, evaluasi komprehensif atas rekam jejak pembayaran suatu entitas asuransi harus selalu mempertimbangkan kedua indikator ini secara absolut berpasangan agar konsumen teredukasi dalam kondisi ekstrem, bukan hanya kondisi rata-rata.
"Metrik yang paling sering dipublikasikan belum tentu mencerminkan pengalaman klaim yang paling relevan bagi pemegang polis dengan nilai pertanggungan besar. Count ratio terutama merepresentasikan penyelesaian klaim bernilai kecil, sedangkan amount ratio menggambarkan kinerja penyelesaian klaim dari sisi nilai finansial. Kedua metrik tersebut sah digunakan, namun interpretasi yang komprehensif memerlukan analisis keduanya secara bersamaan."
— Analisis berbasis data IRDAI FY 2017–2022 · Temuan empiris dari eksplorasi dataset iniAnalisis ini menunjukkan bahwa Claim Settlement Ratio yang sering dipublikasikan oleh industri pada dasarnya mengukur dua realitas yang berbeda. Rasio berbasis jumlah klaim (count) terutama merefleksikan pengalaman klaim bernilai kecil yang frekuensinya tinggi. Sebaliknya, rasio berbasis nilai klaim (amount) lebih sensitif terhadap penyelesaian klaim dengan nilai pertanggungan besar.
Ketika distribusi klaim bersifat heavy-tail—di mana sebagian kecil klaim mewakili porsi besar dari total pembayaran—kedua metrik ini tidak lagi menggambarkan populasi klaim yang sama. Dalam kondisi tersebut, count ratio dapat tetap sangat tinggi sementara amount ratio menunjukkan hasil yang jauh lebih rendah. Fenomena inilah yang menghasilkan severity gap yang terlihat pada beberapa insurer dalam dataset ini.
Implikasi praktisnya bukan sekadar mencari insurer dengan angka tertinggi, tetapi memahami bahwa evaluasi kinerja klaim harus mempertimbangkan kedua metrik secara bersamaan. Tanpa melihat rasio berbasis nilai klaim, settlement ratio yang tinggi dapat memberikan gambaran yang tidak lengkap mengenai konsistensi penyelesaian klaim pada nilai pertanggungan besar.